Sunday, July 09, 2006

My new stage

This has been the past stage of my stories.

With all these nice wonderful feelings, I'm sorry to share this with you.
It is nice to share all the goods and the bads with you guys. But another brand new stage has just been started. Sure I will stand stronger than ever. The love of blogging is still in my blood, maybe if the wind blows you to my new stage, you would be very much welcome. Good luck with everything you have, friends. Be hold to whatever you believe in, because what you believe is maybe what will hurt you the most...

Farewell...

-Susan Indriany-

Saturday, July 08, 2006

LEGOWO

Seseorang pernah membagi arti kata yang asing ini denganku. Sebuah kata yang tadinya begitu lucu terdengar di telingaku ternyata memiliki makna yang begitu dalam. Prinsip menerima adalah kunci dari sikap ini. Tapi bukan hanya sekedar menerima tapi juga dibarengi dengan perasaan ikhlas. Biasanya jika suatu hal terjadi di luar harapan kita, maka kecewa adalah buahnya. Satu sisi akan merasa tidak terima dengan segala dalih dalih yang biasanya lebih menjurus ke kepentingan sendiri. Tidak pantasnya kejadian itu datang pada kita setelah begitu banyak usaha dilakukan; waktu kejadian yang tidak tepat; atau penolakan penolakan sejenis membanjir menenggelamkan akal sehat yang seharusnya digunakan untuk berpikir baik. Seringkali kita mengingkari dan menjadikan diri sebagai tolok ukur bagi tindakan orang lain. Tidak jarang kita merasa bahwa hanya kitalah yang benar. Dan oleh karena itu, sikap tidak terima menjadi senjata utama untuk melawan balik, dengan manipulasi akal sehat, atas alasan hati.

Sikap legowo mungkin mudah diucap tetapi sulit dilaksanakan; seperti kebanyakan teori lain tentunya. Mungkin sebuah kejadian yang berada diluar harap kita datang memang diperuntukkan demi pematangan diri. Bagaimana diri menyikapi hal tersebut bisa diandaikan sebagai pelatihan mental yang hanya bisa diperoleh dari pengalaman. Sikap legowo tidak bertanya mengapa. Sikap legowo hanya tahu menerima. Mengeliminasi pertanyaan pertanyaan atas keegoisan hati. Penerimaan dengan ikhlas menyerahkan semua kekhawatiran pada langit. Menyadari bahwa apa yang terjadi memang sudah digariskan untuk terjadi. Tidak ada kata protes ataupun menentang. Setiap kejadian pasti membawa nilai. Jika kita bisa memetik nilai itu dan menyimpannya sebagai pelajaran, maka tidaklah berlebihan kalau kita menjadi lebih yakin pada diri sendiri untuk mampu melewati hari esok.

Banyak hal yang menggunung untuk dijadikan pertimbangan adil atau tidak aku berada diposisi ini sekarang. Terlalu banyak kenangan indah yang terlalu sayang untuk disimpan rapi dalam rak ingatan. Diri juga mempertanyakan ini dan itu yang selalu membela keinginan hati. Tapi seseorang yang membagiku arti kata legowo itu membuatku berusaha tegar dan berdiri. Pertimbangan pastilah sudah dibuat sehingga keputusan dijatuhkan. Betapapun sakit dirasa, mungkin memang saatnya pedang logika dihunus dan digunakan untuk menebas hati. Dan akupun berusaha menjadi legowo. Biarlah, bila memang akhir cerita indah harus datang, akupun hanya akan menerima. Menjadikan semua yang pernah kudapat sebagai buku berharga bagi bekal tas pengalaman hidupku. Hanya teriring ucap syukur karena boleh menjadi bagian di beberapa lembar cerita hidup seseorang yang begitu menakjubkan.

-Ended 080606, 1340hrs-


Friday, July 07, 2006

Dia pergi...

Keputusan terbuat sudah
Datang dan pergi seperti dua sisi mata uang yang selalu bersama
Keberadaan selama hampir empat musim begitu nyata
Dan mungkin tiba saatnya sudah untuk mati
Terkubur dalam sakit hati karena kebodohan

Kugali liang kuburku sendiri
Mengais tanah merah yang basah untuk kumasuk kedalamnya
Sang pangeran kembali dari kesendirian untuk membaca titah
Mengabarkan duka mendalam yang membunuh hati

Mungkin memang saatnya sudah...
Meninggalkan rumah langit, pergi jauh dari pohon pemujaan
Tanpa kompromi, hanya pedang logika yang tercabut dari tempatnya
Lalu yang tertinggal cuma air mata
Dan yang tersisa cuma sesal karena kebodohan

Dirimu bukan pecahan kaca
Atau bahkan debu pengotor bagi jiwa yang lusuh
Angin bulan Oktober tahun lalu membawamu singgah ditempatku
Membawakan candu yang begitu memabukkan

Entah apa hati merasa, entah apa logika bicara
Yang ada cuma sesal, cuma sedih
Biarlah, jika memang semua membawa kita ke tepian jurang
Jika semua harus berakhir tanpa kata
Maka berakhirlah semua

Dan runtuhlah dinding hatiku sudah
Tak pernah surut harapku untukmu wahai pangeran
Semoga si pemilik asli hatimu menjagamu bagai telur

*Selamat tinggal, sebelah hati...Akan selalu ada tempatmu dihatiku
Tertulis bersama bayang telinga kecilmu...

Thursday, July 06, 2006

BERANDA MAAF…

Maaf jika luka hatimu kubuat
Ketidakberdayaan menjadi reaksi atas ketidakinginan
Atas segala rasa yang menumpuk sana sini
Bukan dirimu yang melukai tapi hati yang begitu egois
Jadikanku serasa pemilik utuh yang congkak

Kesendirian mungkin bisa memberi jawab
Gundah dan kesal yang bercampur tak rata
Kutunggu apa yang kesendirian berikan padamu
Mungkin saja ia membawamu jauh ke awang awang
Atau ia mengajakmu pergi ke tanah lapang
Aku tidak tahu

Aku cuma menunggu, melagukan hati dengan sedikit sesal
Dan juga beribu tanya yang mengurung dalam
Tidak bisa waktu terputar kembali
Inginku untuk jadi malaikat bagi hidupmu
Mengajakmu pergi ke pohon pemujaan kita yang rindang

Maaf bila semua menjadi berpilin
Maaf jika semua berbuah tak sempurna
Hanya karena perintah hati yang tak rela membagimu

*I’ll be here to whatever you might have from your solitude

-Ended 060706, 1508hrs-


TOO MUCH

For taking too much to one side for self satisfaction is not right. Too much could never be right for any reasons. Even if it is considered for the good things. However, every matter has its own capacity; there are limitations to a certain level which is called enough. Sometimes, people think that having too much could add more esteem to one’s self. We could feel more delighted if we could give more than it should be. We overcome the capacity to expose our appreciations. The enough level doesn’t seem to have a perfect line, so that we could pass that level easily, and otherwise there are more that try hard to be at the enough level. Maybe, people just don’t thank enough to what they have. It’s the human instinct to have more than others. We think that the grass is always greener in the other side. So, we’re not trying to make the grass as greener as the other side, but we always want to have our grass as the greenest among all.

We become so defensive when there are trespassers. And that too much effect, creates more self egoistic character to one self. We would feel we have the right to defend the territory because we have given too much. We sometimes don’t realize that we also do not belong there. We also like others who stopped for shelter. It is hard to look inside our self. We understand and pretty much realize that everything we have is just for temporary. When giving too much, we accidently make our self as a selfish person. We would give zero tolerance for whatever may come which is considered as a threat. The question is how do we deal with our self? How do we realize that too much isn’t always good? The self control to our own feeling could be the key. Our self management will be the most effective point to prevent ourselves for being an arrogant person. It might be harder to do than to say, but good action starts from the mind.

Realizing to give enough maybe should become a habit. Where people doesn’t always compete to be the winner and be above the average. Maybe we should be just enough with every matter that includes taking and giving. Too much would probably provoke our conciousness of being different or to stand above all.

Lately, I reflected many thinkgs regarding to these kind of thing. I may be wrong to possess something that may not belong. I realize that I’m just like others who stopped by for shelter. The longer I stay, the harder to let go, because the situation and those treats have spoiled me. I decline to go although I know it perfectly that it isn’t my home. I’ve given too much so I feel that I deserve to have it all. But, life isn’t just a flat road. Too much and too less will always be on a contradictary side. Our judgement to its value will reach our highest thought and effect our treatment to certain problems. I should remember too that I am also a visitor; I do not have any right to possess all things in a place where I don’t belong.

-ended Antasari, 060706, 1445 hrs-


Wednesday, July 05, 2006

Arti Mencari

Aku mungkin takut akan besok dan lusa
Mungkin juga pengecut yang tahu merasa
Tidak pula aku miliki janji, yang ada cuma hati
Setiap hati datang mengetuk dada
Tak pernah aku rela membuka kuncinya
Aku mau tetap boleh memilih semua ini
Kesemuan yang nyata, kenyataan yang semu
Entah kapan selimut kebersamaan ini akan tersingkap
Membuka sosok diri yang sebenarnya rapuh
Biarpun engkau bukan ada untukku
Tapi untuk boleh bersamamu
Melewati gunung dan laut, tebing dan jurang
Memberikan rasa indah tak berperi
Aku ingin pergi saja, melanglang jauh menembus tali tali kepantasan
Supaya hanya ada aku dan engkau tanpa takut hadapi matahari yang hendak terbit

-Antasari, 050606, 1452 hrs-

Tuesday, July 04, 2006

JAM MAKAN SIANG DI JALAN SABANG

Lampu lampu kendaraan terlihat seperti kunang kunang memenuhi jalur aspal yang membujur membelah gelap malam di Jakarta. Semua sudut kota mungkin mulai mengawali malam cerah ini dengan bunyi kendaraan yang masih saja bising. Pikirku melayang jauh menyebrangi ruang yang dipenuhi rasa setengah hati yang mengurung. Adamu di episode makan siang tadi tertancap jelas di bayangan. Dua jam yang seperti dua detik menguap cepat menghilang dari pandangan. Cerita yang terbagi di kantin tengah kota membuat hati sedikit luka walau tidak membuat efek berdarah. Menerima saja cerita yang melantun menerjang telinga. Sedikit kecewa dan mungkin juga sedih. Menjadikanku yakin dan lebih yakin tentang ketidakpastian akan apapun. Betapa mudahnya kehilangan atas apa yang dimiliki sekarang. Mungkin aku boleh mengira apa yang akan terjadi seandainya cerita terus berlanjut, dan tanpa adanya langkah mundur. Dan mungkin tidak akan berefek padaku seandainya apa yang dipunya tidak mengakar seperti hari ini. Semua pintu kemungkinan terbuka lebar untuk menuju suatu tempat. Cerita itu menjabarkan dengan gamblang tentang sisi yang selama ini menggulung menjadi benang pertanyaan di kepala tentang akhir cerita yang dimiliki. Apa yang akan terjadi, bagaimana akan berakhir, dan akan seperti apa efeknya. Terus saja kusimpan segala kemungkinan dalam sebuah kotak berlabel waktu yang menjadi misteri sampai tiba saatnya nanti.

Dan untuk waktu yang dijalani sekarang hanya akan kunikmati kebersamaan dan cerita indah denganmu. Adamu sungguh mengkomplitkan hati yang berjuang demi kepantasan (katamu). Pun begitu, memiliki seseorang dan sosok yang mampu membuatku melenting dan mampir ke tempat bersama kesempurnaan patut disyukuri sejadi jadinya. Tidak ada kepastian atas semua yang dimiliki sekarang, bahkan untuk sekedar berharap lebih buat sebuah pertemuan pun tidak berani. Biar saja, bila memang datang seorang malaikat yang membawamu pergi dari jurang gelap kehidupan, aku pasti rela melepasmu dan pasti ikut berbahagia atas bahagiamu walau mungkin dengan cerita yang telah tersimpan. Hanya untuk boleh bertemu sebelah hati sepertimu, memperkaya hati dan logikaku atas hidup. Atas apa yang menjadikan dua pribadi yang berbeda dengan segala atribut keduniawian, menjadi satu tanpa kepentingan logika, membuat mataku terbuka lebar lebar untuk setiap kemungkinan terburuk sekalipun.

-ended Jakarta, 040606, 1852 hrs-


Thursday, June 29, 2006

What home business can I do?

This question doesn't pop up suddenly in my head. But, there are few provocative matters that trigger this simple complicated question. I've done quite a lot of thinking about what possibilities could I have if I pursue the answer. I've searched here and there by the internet, but what attracts me is something related with cratfs and art. Many articles shows that if you want to start a business you should list the thing you like best, and I think this would be a great exploration to my self. But, like any other people, many doubts strike hard at the same time. So many question about this and that, lack of self confident, capital matters, is it worth the fight, or stuff like those. Anyhow, being an enterprenure would give a self satisfaction in exploiting the toughness to one's mind. How could a person create something unique, expand the business, to be a problem solver, and everything that would challenge the guts to do the business.

It's not wrong to be an employee for me, but I think being an employer could give you a plus, because you need to work harder than your employees. I know that it all comes down to a struggle to have a running business but the process of it will also adding up our quality for being a good and tough employer. Well, it always needs to have the fall before you get up, right? In many ways, reading books, articles, interviews, and related stuff to richen the knowledge is a good start. But, a start needs action. Will I be dare enough to start? Hmm, I'll let you know when the whistle blows. Wish me luck, guys...

Dan Ramsey in his book "101 Best Home Businesses" suggests these 10 steps in deciding what business to start:
You can find out more about home business, here.

Sunday, June 25, 2006

Pantai Mutun, Lempasing, Bandar Lampung

Kali ini Hash kembali diadakan di daerah pantai yang membuatku semangat untuk ikut lagi dengan Mama dkk. Seperti cerita di Batu Payung terdahulu, berenang sekitar jam 6 pagi di laut, dengan suhu air yang kadang dingin kadang hangat disertai angin laut dan juga terbitnya matahari. Kembali berbaring beralas laut dan berpayung langit. Ada yang ngiri gak sih? ;) Kali ini kamera tidak mungkin terlupakan, lalu ini laut di Bandar Lampung-ku tercinta, yang bikin kangen selalu.

...Pecahnya ombak menjadi buih...

...The blanket of the ocean...


...A part of me...

...The aisle of the beach...


...Sunrise at Mutun...

Well...ada yang mau ke Lampung? Yuk...main ke pantai pantai indah di kotaku. Walaupun lagi musim gempa kecil kecil, banyak penjahat (kata Mas), tapi hometown is always the best place on earth!

-Sunny Sunday, 250606-


Wednesday, June 21, 2006

Lemparan PR dari Bubu...

Sebelumnya saya mau minta maaf dan sungkem ke Bubu karena mungkin PR dari Bubu tidak bisa dikerjakan dengan baik. But however, it's another chapter of mine that maybe only few will understand and interested in.

My happiest moment in life:
  1. Ketika wisuda. Bisa lihat Papa dan Mama begitu bangga melihat anaknya jadi sarjana, lulus juga akhirnya.
  2. Ketika bisa menemukan waktu yang pas untuk bertemu si pemilik hati.
  3. Ketika bisa menikmati kebersamaan dengan si pemilik hati.
  4. Ketika bisa menjadi telinga yang baik.
  5. Ketika semua anggota keluarga lengkap bisa berkumpul, makan bersama, dan saling bertukar cerita.
  6. Untuk mampu bersyukur setiap hari atas apa yang dipunya merupakan moment paling membahagiakan dalam hidup.
My saddest moment in life:
  1. Membuat Mama menangis karena kebodohanku.
  2. Setiap harus meninggalkan rumah langit.
  3. Setiap melihat mata pemilik hati waktu bisku perlahan meninggalkan kotanya.
  4. Setiap rindu membanjir tapi tidak ada yang bisa dilakukan karena terbatasnya ruang dan waktu.
  5. Setiap Louisa sakit.
  6. Mengetahui orang orang tersayang tidak merasa bahagia tapi tidak bisa melakukan apa apa merupakan saat tersedih dalam hidup.
Bubu, mungkin tidak seperti yang Bubu harapkan. Tapi rasanya setiap hari yang dilewati, baik senang maupun susah, akan terus menjadi catatan terbaik untuk tas pengalaman hidupku. There never was and there never will be any highlights to my happiest moments and saddest moments, there will only be a thankful moments for every feelings. Maafin ya, Bu...and thank you for this homework! Muach...

Monday, June 19, 2006

s.e.p.e.n.d.a.r.p.e.l.i.t.a.j.i.w.a

Engkau yang datang di kala lukaku mulai kering
Menawarkan tempat berteduh ketika hujan mulai reda
Engkau yang dulu berada entah dimana
Waktu hidup menghempasku ke jurang dalam

Perlahan kita tapaki jalan sempit berbatu
Seakan tiada jalan lain yang lebih lebar dan luas
Engkau menjagaku tetap kokoh berdiri
Mengajarku jelas jelas tentang hidup dan mati

Jiwa kita seolah lekat menyatu dalam haru
Mengikat hati sebagai tempat sembunyi dari palsu
Menjilati sisa sisa kekuatan hati yang masih ada
Untuk jadikan diri sebagai sosok yang sedikit nyata

Engkau sang penolong jiwa
Penari hati yang tak lelah menemani
Akan terus dijaga permata yang terlambat datang
Biar sinarnya terang menemani sisi letih yang terhutang

I love the way you take care of me…

-Antasari, 190606, 1615 hrs-


Saturday, June 17, 2006

MORNING BRIEFING AT BREAKFAST

Menu topik di meja makan bersama Papa dan Mama sambil menyantap singkong dan pisang goreng pagi ini adalah cara mendidik anak. Bagaimana orangtua mendidik anaknya supaya menjadi pribadi yang baik dan tangguh. Topik ini timbul karena ada insiden cerita pemukulan terhadap anak yang dilakukan salah seorang saudara. Mungkin teori mengajar anak dengan kekerasan ini masih banyak terjadi pada generasi terdahulu yang masih kurang informasi dan juga tidak hidup di jaman yang makin edan seperti sekarang. Cerita cerita Papa dan Mama tentang bagaimana dulu mereka diajar dengan cara kekerasan menjadi bahan yang juga lucu bagi mereka sendiri pagi ini. Tapi, karena dulu Papa dan Mama tahu sakitnya dididik dengan cara itu, maka mereka tidak mendidik anak-anaknya dengan metode yang sama. Papa Mama lebih memilih pendekatan dan bersikap netral dalam menghadapi kenakalan kenakalan kami, dan berusaha menanamkan tanggung jawab atas apa yang dilakukan. Aku pikir, semua orang tua jaman sekarang juga sudah berpikiran maju seperti Papa dan Mama. Ternyata eh ternyata, masih ada juga yang menganut prinsip kekerasan itu di jaman seperti ini. Dan ternyata terjadi di lingkupan saudara juga.

Entah masih menganut pola pikir orang tua jaman dulu atau faktor lain. Tetapi si Ibu ini adalah sosok Ibu yang bertanggungjawab dalam mengurus hal hal kerumahtanggaan. Ia adalah istri yang tidak pernah menuntut apapun dari suaminya. Ia juga tahu mengurus rumah, mendampingi suami dalam keadaan yang sulit, maupun memberikan perhatian yang cukup untuk anak-anaknya. Mungkin insiden itu juga diakibatkan oleh kerak kerak kekesalan yang bertumpuk yang sudah sekian lama terpendam. Atau mungkin juga sedang tidak akur dengan suami, atau juga keadaan financial yang mengkuatirkan, atau banyak lagi kemungkinan lainnya. Kebetulan, anak anaknya adalah anak yang sulit diatur dan tidak mau mendengarkan orang lain. Tapi darimana pribadi itu terbentuk kalau bukan dari rumah? Sementara sang Ayah belum juga pulang kerja padahal sudah masuk jam tidur untuk anak. Lalu, bagaimana semua harus disikapi. Jawabnya ada pada orang tua.

Membangun sebuah keluarga dan mempunyai anak anak sebagai hasil buah cinta bukanlah sekedar melanjutkan keturunan. Komitmen membangun keluarga, sehidup semati, dalam susah dan senang, dalam untung dan malang, ternyata memang sebegitu berat ujiannya. Semua keindahan yang dibayangkan sebelum mengambil keputusan untuk mengambil kehidupan bersama mulai runtuh satu persatu dengan situasi situasi keseharian seperti ini. Perlu keutuhan dan kekuatan bagi para orang tua untuk bertanggung jawab dengan bagaimana anak anak akan menjadi seorang manusia yang baik secara lahir dan batin. Mengemban tanggung jawab untuk mencetak manusia manusia baru dengan bekal yang berguna sampai sisa hidupnya kelak. Mendidik anak dengan penuh cinta kasih dan juga pengetahuan pengetahuan yang cukup akan menjadi ukuran keberhasilan kita orang dewasa menjadi orang tua. Butuh komitmen, konsistensi, dan juga kerja keras dari Ayah maupun Ibu. Karena bila dua pribadi ini pun masih sibuk mengurusi perbedaan yang mereka miliki dan belum bisa berpikir dalam jalur yang sama, maka apa yang mereka tularkan ke anak anak pun menjadi tidak benar. Kalau Mas bilang, orang tua juga harus bisa menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Mungkin aku menjadi terlalu menggurui tapi aku juga berharap kalau aku bisa menjadi orang tua yang baik seperti yang aku tuliskan disini bagi anak anakku kelak. Semoga…

-Ended Antasari, 170606, 1343hrs-


This page is powered by Blogger. Isn't yours?